The Laker's X6… Everything, Everywhere, Everytime…

Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang pria dan wanita yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan memandang mereka dengan kagum sambil melafaskan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Pada suatu hari, sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tanpa sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang wanita menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-manggil kekasih yang sama sekali belum sadar itu.

Malamnya ia ke rumah kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.
Seminggu telah berlalu, sang lelaki belum juga sadarkan diri. Sang wanita telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tiada terkira. Dengan susah payah ia tetap bertahan. Akhirnya pada suatu hari, dalam sebuah mimpi, Tuhan terharu oleh keadaan wanita yang setia dan teguh itu. Ia memutuskan memberikan kepada wanita itu sebuah pengecualian kepada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya, “Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?”. Tanpa ragu sedikit pun wanita itu menjawab, “Ya”.
Tuhan berkata, “Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu harus berjanji menjelma menjadi seekor kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?”. Wanita itu terharu setelah mendengarnya, dan dengan tegas ia menjawab,”Saya bersedia!”.

Hari telah terang. Wanita itu telah menjadi seekor kupu-kupu jelita yang indah. Ia mohon diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman, bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Melalui sekat kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri.

Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang wanita pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya ke mana sang wanita telah pergi. Lelaki itu sepanjang hari tidak makan dan tidak istirahat, terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih. Namun sang wanita yang telah berubah menjadi kupu-kupu, bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya
bisa memandangnya secara diam-diam.

Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat itu, lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya.

Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui oleh kekasihnya. Sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat didengar oleh kupu-kupu itu sendiri. Mau tak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa sebongkah harapan.

Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua. Kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama ditinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang wanita cantik. Dalam sekilas, kupu-kupu itu nyaris melayang dari angkasa. Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang dibicarakan banyak orang.

Orang-orang selalu menceritakan ketika menjelang akhir tahun, betapa parah
sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter wanita itu. Bahkan
melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka. Tentu saja mereka juga
melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala. Kupu-kupu jelita
itu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya
sendiri membawa wanita itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar
matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah dimilikinya dahulu dalam
sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang wanita lain. Ia sendiri meski
kadangkala bisa hinggap di atas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Musim panas tahun ini sangat panjang. Kupu-kupu itu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa. Ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dan wanita itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat embusan napas dirinya berakhir. Karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupu-kupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini. Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si wanita, mencium lembut wajahnya. Sama sekali tidak
punya waktu untuk memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya, apalagi mengingat masa lalu.

Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir. Pada saat hari terakhir, kekasih sang kupu-kupu itu melaksanakan pernikahan dengan wanita itu. Di dalam rumah ibadat kecil itu telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada di bawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan, “Saya bersedia menikah dengannya!”. Ia memandangi sang kekasih, memakaikan cincin ke jari manis tangan kiri wanita itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu.

Dengan pedih hati Tuhan menarik napas, “Apakah kamu menyesal?” Kupu-kupu mengeringkan air matanya, “Tidak”. Tuhan lalu berkata disertai seberkas kegembiraan, “Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri”. Kupu-kupu itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Biarkanlah aku tetap menjadi kupu-kupu seumur hidup”.

ada beberapa kehilangan merupakan takdir. ada beberapa pertemuan yang tidak akan berakhir selamanya. mencintai seseorang tidak mesti harus memiliki, namun memiliki seseorang seyogyanyalah harus baik-baik mencintainya.

Ketika Tuhan mengizinkan seseorang mengalami bencana, pertama-tama Dia akan memberikan kepada orang itu sedikit keberuntungan untuk menyenangkan hatinya, dan kemudian dilihat apakah orang itu dapat menerimanya dengan sikap pantas. Ketika Tuhan mengizinkan seseorang mengalami keberuntungan, petama-tama Dia akan memberikan kepada orang itu sedikit kemalangan dan kemudian akan dilihat bagaimana orang itu menyikapi nasibnya. (Chinesse Wisdom )

Cukup mudah untuk bersikap menyenangkan kalau hidup mengalir seperti lagu.Tapi orang yang hebat adalah orang yang bisa tersenyum pada saat semuanya nampak berantakan. Sebab ujian bagi hati adalah kesulitan dan kesulitan selalu datang setiap waktu. Dan senyuman yang layak disanjung dunia adalah senyuman yang bersinar menembus air mata (Ella Wheeler Wilcox)

Comments on: "Cinta itu Pengorbanan" (2)

  1. Cinta Butuh Pengorbanan tapi Jangan Pernah Berkorban Karena Cinta..

  2. Cinta Adalah perjuangan………… pengorbanan…….. dan pengabdian………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: